DLH Makassar Perkuat Pengolahan Sampah di Kecamatan, 44 Mesin Disiapkan

NavigasiKreatif.com, MAKASSAR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar menyiapkan puluhan mesin pengolah sampah untuk memperbesar kapasitas pengolahan sampah di tingkat kecamatan. Langkah ini diarahkan untuk mengurangi volume sampah yang harus diangkut hingga ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Mesin yang disiapkan terdiri atas 10 unit mesin pencacah anorganik, 10 unit mesin pengayak, dan 24 unit mesin pembubur. Peralatan tersebut akan didistribusikan ke kecamatan melalui fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

Bacaan Lainnya

Kepala DLH Makassar, Helmy Budiman, mengatakan pemerintah mulai mengubah pola pengelolaan sampah yang selama ini lebih banyak bertumpu pada pengangkutan.

“Kami juga mulai beralih secara bertahap menggunakan mesin sampah karena alat tersebut lebih hemat dan mampu mengangkut sampah dalam jumlah yang lebih banyak,” beber Helmy, Rabu (26/8/2026).

Menurut Helmy, penguatan fasilitas pengolahan di tingkat kecamatan penting agar sampah dapat diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya. Dengan begitu, volume sampah yang harus diangkut menuju TPA dapat ditekan.

“Mesin-mesin ini didistribusikan ke kecamatan melalui TPS3R. Harapannya, dengan adanya mesin-mesin ini, daya pengolahan sampah di tingkat kecamatan menjadi semakin besar,” tutur Helmy.

Selain mesin pencacah anorganik, pengayak, dan pembubur, DLH juga merencanakan pengadaan mesin pencacah organik. Mesin ini akan digunakan untuk memperkecil ukuran sampah seperti daun, ranting, dan sisa sayuran agar lebih cepat terurai dan dapat diolah menjadi kompos.

“Mesin pencacah organik itu rencana pengadaan berikutnya, diupayakan pada anggaran pokok, untuk mempercepat proses pembuatan kompos di masyarakat,” kata Helmy.

Helmy mengatakan sampah organik memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat, termasuk pakan maggot, pakan ternak, dan kompos.

“Dengan cara tersebut, sampah yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan dapat berubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat,” terang Helmy.

Penguatan pengolahan sampah juga dilakukan melalui Bank Sampah Unit (BSU), Bank Sampah Sektor (BSS), dan TPS3R. DLH meminta setiap kecamatan meningkatkan kinerja fasilitas tersebut agar lebih banyak sampah dapat ditangani sebelum masuk ke TPA.

“Kami juga berharap setiap kecamatan untuk meningkatkan kinerja Bank Sampah Unit dan Bank Sampah Sektor,” ungkap Helmy.

Menurut Helmy, semakin banyak fasilitas pengolahan yang aktif, semakin besar pula volume sampah yang dapat diselesaikan di tingkat masyarakat dan kecamatan.

“Jika Bank Sampah Unit, Bank Sampah Sektor, dan TPS3R sudah bertumbuh dan banyak di masing-masing wilayah, otomatis volume sampah yang dapat diselesaikan akan semakin besar,” sambung Helmy.

Ia mengatakan sebagian besar mesin pengolahan yang disiapkan telah diterima kecamatan dan pengelola TPS3R, sedangkan sebagian lainnya masih dalam proses distribusi.

Pemerintah Kota Makassar menargetkan pengelolaan sampah tidak lagi hanya mengandalkan sistem angkut-buang. Sampah diharapkan dapat dipilah dan diolah sejak dari rumah, lingkungan, hingga tingkat kecamatan.

“Dengan sistem ini, penanganan sampah tidak hanya diselesaikan secara mandiri oleh masyarakat, tetapi juga secara komunal dan tingkat kecamatan,” jelas Helmy.

Dengan pola tersebut, Helmy berharap semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan sebelum masuk ke TPA sehingga beban pengangkutan dan pengelolaan di tempat pembuangan akhir dapat berkurang.

“Jadi, semakin banyak sampah yang dapat diselesaikan di tingkat masyarakat dan wilayah sebelum masuk ke TPA,” tutup Helmy. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *