Makkunrai Arts Academy Batch 2 Hidupkan Warisan Budaya Maritim dan Buka Ruang Tumbuh bagi Anak Perempuan dari Kawasan Rentan TPA Antang

NavigasiKreatif.com, Makassar, 21 Juni 2026 — Sebanyak 20 anak perempuan dari kawasan rentan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang menyelesaikan rangkaian kegiatan Makkunrai Arts Academy Batch 2 yang berlangsung pada 8–21 Juni 2026.

Program ini merupakan bagian dari Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Selatan yang diinisiasi oleh Nurhikmah, Director of Makkunrai Institute, melalui program bertajuk “Pendokumentasian dan Aktivasi Seni Tradisi Maritim bagi Anak Perempuan dari Kawasan Rentan TPA Antang.”

Bacaan Lainnya

Mengangkat tema Warisan Budaya Maritim, program ini dirancang sebagai ruang belajar kreatif yang mengintegrasikan seni, budaya, dan pendidikan karakter bagi anak perempuan. Para peserta berasal dari SD Inpres Bangkala 3 dan SDN Tello Baru 2, dua sekolah yang menjadi mitra pelaksanaan program tahun ini.

Pembelajaran Seni Berbasis Potensi dan Karakter

Makkunrai Arts Academy Batch 2 merupakan pengembangan dari Kelas Seni Makkunrai Tahun 2025 yang menjadi Batch 1 program. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, batch kedua menghadirkan proses pembelajaran yang lebih terstruktur melalui asesmen potensi seni, pendampingan sesuai minat dan bakat peserta, penguatan karakter berbasis budaya, hingga kesempatan menampilkan hasil belajar di hadapan publik.

Sebelum mengikuti kelas, seluruh penerima beasiswa Makkunrai Arts Academy menjalani asesmen untuk memetakan potensi dan kecenderungan artistik masing-masing. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar dalam proses pendampingan sehingga setiap peserta memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan kemampuan dan karakter dirinya.

Menurut Nurhikmah, Makkunrai Arts Academy lahir dari keyakinan bahwa seni dan budaya dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat karakter sekaligus membuka ruang tumbuh bagi anak perempuan dari kelompok rentan.

“Kami percaya bahwa setiap anak memiliki potensi yang perlu ditemukan dan dirawat. Seni menjadi medium yang sangat efektif untuk membangun rasa percaya diri, keberanian berekspresi, kemampuan bekerja sama, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas mereka. Karena itu, Makkunrai Arts Academy tidak hanya mengajarkan keterampilan seni, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan anak perempuan sejak dini,” ujar Nurhikmah.

Seluruh rangkaian kegiatan menggunakan pendekatan BUMA (Budaya Makkunrai) Art Integrated Formula, sebuah metode pembelajaran karakter berbasis seni yang dikembangkan oleh Nurhikmah.

Pendekatan ini mengintegrasikan praktik berkesenian dengan nilai-nilai budaya, refleksi pengalaman, kerja kolaboratif, dan penguatan karakter dalam satu proses pembelajaran yang partisipatif dan menyenangkan.

Pelaksanaan program didukung oleh delapan fasilitator dan dua narasumber dari kalangan praktisi pendidikan dan seni. Di antaranya Muh. Faisal, Kepala SD Inpres Bangkala 3; Rahmawati Sasmedi, guru SDN Tello Baru 2; serta Nur Asrinah, praktisi seni yang juga bertindak sebagai sekretaris program.

Alumni Batch 1 Menjadi Fasilitator Muda

Salah satu capaian yang paling membanggakan dalam pelaksanaan tahun ini adalah keterlibatan alumni Makkunrai Arts Academy Batch 1 Tahun 2025 sebagai fasilitator muda. Anak-anak yang sebelumnya menjadi peserta kini telah mampu mengajarkan Tari Padduppa kepada adik-adik peserta baru sebagai bagian dari proses transfer pengetahuan budaya.

“Salah satu indikator keberhasilan program ini adalah ketika peserta mampu tumbuh menjadi pembelajar sekaligus pengajar. Kami melihat anak-anak yang sebelumnya belajar dasar-dasar tari kini telah memiliki kepercayaan diri untuk berbagi pengetahuan kepada teman-temannya. Ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi hidup melalui praktik dan pewarisan pengetahuan secara langsung,” kata Nurhikmah.

 

Sebagai mitra pendidikan, pihak sekolah menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Muh. Faisal menilai Makkunrai Arts Academy memberikan ruang yang sangat penting bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi diri di luar pembelajaran formal.

“Kami melihat perubahan yang sangat positif pada anak-anak yang mengikuti program ini. Mereka menjadi lebih percaya diri, lebih berani tampil di depan umum, lebih disiplin, dan mampu bekerja sama dengan teman-temannya. Yang menarik, proses belajar dilakukan melalui seni dan budaya sehingga anak-anak merasa senang tanpa menyadari bahwa mereka sedang mengembangkan banyak keterampilan penting untuk masa depannya,” ujar Faisal.

Menurutnya, program tersebut juga membantu sekolah dalam memperkuat pendidikan karakter yang selama ini menjadi perhatian utama dunia pendidikan.

“Anak-anak dari kawasan rentan sering kali memiliki potensi besar, tetapi belum selalu mendapatkan ruang yang memadai untuk mengembangkannya. Makkunrai Arts Academy membuka ruang itu. Program ini membuktikan bahwa ketika anak-anak diberikan kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan, mereka mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya,” tambahnya.

Resital Seni dan Penguatan Karakter Budaya Maritim

Sebagai bagian dari proses pembelajaran, peserta menampilkan hasil belajar mereka dalam Resital Karya Seni yang digelar pada 16 Juni 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh sivitas akademika sekolah, orang tua peserta, keluarga, serta masyarakat umum. Bagi sebagian peserta, pengalaman tersebut menjadi kesempatan pertama untuk tampil di hadapan publik dan memperlihatkan hasil kerja keras mereka selama mengikuti program.

Puncak kegiatan berlangsung pada 21 Juni 2026 yang ditandai dengan penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta dan fasilitator. Sertifikat diserahkan langsung oleh Nurhikmah selaku inisiator program dan Director of Makkunrai Institute, Nurabdiansyah selaku Pembina Makkunrai Institute, serta Muh. Faisal selaku Kepala SD Inpres Bangkala 3.

Pada kesempatan tersebut, peserta juga menerima Piagam Karakter Budaya Maritim sebagai bentuk apresiasi terhadap perkembangan karakter yang ditunjukkan selama proses pembelajaran. Penghargaan diberikan dalam sepuluh kategori nilai budaya, yaitu Malempu (jujur), Magetteng (teguh pendirian), Warani (berani), Macca (cerdas), Matinulu (rajin), Alusu (santun), Mamasemase (berempati), Masengereng (menyenangkan), Makkatutu (teliti), dan Masumange (penuh semangat).

Siap Tampil di Makkunrai Art Festival 2026

Perjalanan peserta tidak berhenti setelah program berakhir. Sebagai bagian dari penguatan ekosistem pembelajaran seni yang berkelanjutan, para peserta akan memperoleh kesempatan untuk tampil di ruang publik melalui Makkunrai Art Festival 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026. Festival tersebut akan mempertemukan seniman, pegiat budaya, akademisi, komunitas kreatif, serta jejaring internasional dalam sebuah perayaan seni dan budaya yang inklusif.

Menurut Nurhikmah, kesempatan tampil dalam festival merupakan bagian penting dari proses pendidikan seni yang dijalani peserta.

“Anak-anak perlu merasakan bahwa karya dan proses belajar mereka memiliki makna serta diapresiasi oleh masyarakat. Kesempatan tampil dalam Makkunrai Art Festival akan memperluas pengalaman berkesenian mereka, membangun rasa percaya diri, memperkuat kemampuan berkomunikasi, serta memberikan pengalaman tampil di ruang publik yang melibatkan jejaring nasional dan internasional. Ini bukan sekadar panggung pertunjukan, tetapi ruang belajar yang memungkinkan anak-anak memahami bahwa karya mereka dapat berdialog dengan masyarakat dan dunia,” ungkapnya.

Melalui Makkunrai Arts Academy, Makkunrai Institute berupaya menghadirkan model pendidikan seni berbasis budaya yang inklusif, berkelanjutan, dan berpihak pada kelompok rentan. Program ini menjadi ikhtiar untuk memastikan bahwa warisan budaya maritim tidak hanya terdokumentasi sebagai pengetahuan masa lalu, tetapi terus dihidupkan melalui kreativitas, karakter, dan keberanian generasi muda yang akan menjadi pewaris sekaligus penggerak kebudayaan di masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *