DLH Makassar Libatkan Arborist, Revitalisasi Kajaolalido-Thamrin Siapkan Pohon Natif Sulawesi

NavigasiKreatif.com, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memastikan revitalisasi pedestrian Kajaolalido-Thamrin tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik.

Penataan kawasan tersebut juga memperhatikan keberadaan pepohonan sebagai bagian penting dari ekosistem perkotaan.

Bacaan Lainnya

Karena itu, Pemkot Makassar melalui DLH melibatkan ahli arboris untuk memastikan setiap pohon yang berada di area proyek mendapatkan penanganan sesuai kondisi, karakteristik, serta tingkat risikonya.

Dalam proyek tersebut, tim ahli arborikultur turut dilibatkan untuk memberikan kajian terhadap kondisi pohon, sistem perakaran, ruang tumbuh, hingga potensi konflik antara vegetasi dengan infrastruktur dan utilitas di kawasan pedestrian.

Ahli arborikultur sekaligus praktisi arsitektur lanskap, Rully Wijaya, mengatakan penanganan vegetasi dilakukan berdasarkan kondisi dan karakter setiap pohon serta kesesuaiannya dengan ruang tumbuh yang tersedia.

Menurut Rully, persoalan yang ditemukan bukan semata-mata disebabkan jenis pohon, tetapi juga karakter sistem perakaran ketika pohon tumbuh di kawasan dengan kepadatan infrastruktur dan utilitas yang cukup tinggi.

“Ketapang kencana itu pohon yang akarnya ekspansif. Jadi, sebenarnya pohonnya tidak salah karena itu merupakan karakter pertumbuhannya,” ujarnya, Jumat (25/9/2026), saat menanggapi pedestrian percontohan dengan konsep ruang terbuka hijau (RTH).

“Jadi, persoalannya adalah mengapa pohon tersebut dulu ditanam di lokasi yang memiliki banyak infrastruktur dan utilitas,” tambah Rully.

Revitalisasi pedestrian di kawasan Kajaolalido-Thamrin tidak hanya menyasar pembenahan jalur pejalan kaki, tetapi juga penataan berbagai aset utilitas yang berada di sepanjang area pekerjaan.

Proyek tersebut mencakup pedestrian Kajaolalido sepanjang 427,9 meter dan Thamrin sepanjang 225 meter. Penataan juga mencakup sejumlah tiang utilitas, mulai dari tiang listrik eksisting, tiang trafo, Penerangan Jalan Umum (PJU), hingga tiang jaringan fiber optik.

Dalam proses penataan kawasan, keberadaan pepohonan juga menjadi perhatian. Tercatat terdapat sejumlah pohon yang masuk dalam area pekerjaan, terdiri atas 80 pohon ketapang, sembilan pohon mahoni berukuran besar, serta dua pohon berukuran kecil.

Penanganan vegetasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian desain dan pekerjaan konstruksi di lapangan.

Sementara itu, dari 62 tiang fiber optik yang berada di area pekerjaan, direncanakan dilakukan penataan dengan mengonsolidasikannya menjadi 17 tiang induk.

Rully merespons positif langkah Pemkot Makassar yang menyiapkan ratusan pohon natif untuk ditanam di ruas jalan tersebut.

Rully menjelaskan, karakter akar yang ekspansif dapat menimbulkan konflik dengan pedestrian maupun infrastruktur lain ketika ruang tumbuh akar terbatas.

Karena itu, menurutnya, pemotongan akar bukan solusi jangka panjang. Penanganan harus dilakukan melalui strategi penataan vegetasi dan ruang tumbuh sejak tahap perencanaan pembangunan pedestrian.

“Kalau akarnya kita potong, kemudian trotoarnya kita perbaiki, dalam waktu tertentu akar itu akan tumbuh lagi dan kembali membongkar trotoar. Sehingga butuh strategi,” imbuh Rully.

Dia mengatakan, penanganan vegetasi dalam proyek revitalisasi diarahkan pada penggantian pohon dengan spesies yang memiliki karakter sistem perakaran lebih sesuai untuk kawasan pedestrian.

Pemilihan jenis pohon juga perlu mempertimbangkan kemampuan adaptasi terhadap kondisi lingkungan setempat.

“Secara teknis, pohon itu harus dihilangkan, bukan sekadar dibuang, tetapi diganti dengan pohon lain yang akarnya lebih ramah. Sebisa mungkin kita memilih pohon asli atau pohon natif Sulawesi agar adaptasinya lebih cepat,” katanya.

Menurut Rully, pemilihan pohon pengganti tidak boleh hanya mempertimbangkan bentuk tajuk atau nilai estetika, tetapi juga karakter perakaran dan ruang tumbuh yang tersedia.

“Jenis pohonnya juga harus dipilih yang akarnya tidak agresif atau ekspansif. Dengan begitu, daya tahannya bisa lebih lama,” jelasnya.

Ia menilai pendekatan tersebut penting agar persoalan yang sama tidak kembali muncul setelah pedestrian selesai dibangun.

Rully menekankan, keberhasilan penanaman pohon di kawasan pedestrian tidak cukup hanya dengan menyediakan lubang tanam.

Menurutnya, perencana harus memperhitungkan ruang tumbuh akar sejak tahap awal pembangunan.

“Yang dibutuhkan tanaman sebenarnya bukan sekadar lubang untuk menanam, tetapi ruang bagi akarnya untuk tumbuh. Kita sering tidak melihat bagian yang berada di bawah tanah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, akar membutuhkan air dan oksigen untuk dapat tumbuh dengan baik.

Karena itu, desain pedestrian harus memungkinkan air dan udara tetap mencapai ruang tumbuh akar.

“Supaya pohon bisa tumbuh, tanah harus memiliki air dan oksigen. Kalau semuanya tertutup sehingga air dan oksigen tidak bisa masuk, akar akan mati,” terangnya.

Konsep tersebut, lanjut Rully, dapat diterapkan dengan menyediakan ruang tanah di bawah pedestrian serta menggunakan material perkerasan yang memungkinkan air meresap ke dalam tanah.

“Walaupun trotoarnya tidak terlalu besar, bagian dalamnya dapat diisi tanah dan bagian atasnya menggunakan perkerasan yang memungkinkan air masuk, misalnya beton berpori,” tuturnya.

“Dengan begitu, akar dapat tumbuh di dalam ruang tersebut dan tidak cepat muncul ke permukaan,” lanjutnya.

Selain mengidentifikasi konflik antara akar dan infrastruktur, tim arboris juga melakukan kajian terhadap pohon-pohon tua yang berada di sekitar kawasan pedestrian, khususnya jalur menuju kawasan Lapangan Karebosi.

Menurut Rully, penanganan pohon tua pada lokasi tersebut memiliki pertimbangan berbeda dengan pohon yang berkonflik dengan infrastruktur.

Jika konflik akar dengan pedestrian lebih berkaitan dengan keberlanjutan fungsi infrastruktur, kondisi pohon tua memiliki dimensi keselamatan yang lebih besar karena berkaitan langsung dengan pengguna jalan dan masyarakat.

Di sekitar Lapangan Karebosi dan jalur setelahnya terdapat sejumlah pohon tua yang juga menjadi perhatian dalam kajian.

“Ini berbeda kasus, kalau yang tadi adalah konflik permanen antara pohon dengan infrastruktur dan utilitas,” ujarnya.

Karena itu, kajian terhadap pohon dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing vegetasi, termasuk potensi risiko terhadap lingkungan sekitar.

Rully menegaskan, penataan vegetasi dalam revitalisasi pedestrian seharusnya menjadi bagian dari perencanaan kawasan secara menyeluruh.

Hal tersebut dilakukan dengan memperhitungkan jenis pohon, karakter akar, ruang tumbuh, kebutuhan air dan oksigen, serta hubungan vegetasi dengan infrastruktur.

Keberadaan pohon di kawasan pedestrian diharapkan tetap memberikan manfaat ekologis dan estetika tanpa menimbulkan persoalan baru terhadap fasilitas publik.

“Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pedestrian yang tidak hanya nyaman bagi pejalan kaki, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan perkotaan,” tukasnya.

Pada kesempatan tersebut, salah satu perwakilan arboris, Faris, menjelaskan bahwa pohon yang nantinya ditanam sebagai pengganti akan dipilih dari jenis yang lebih adaptif, termasuk tanaman natif Indonesia yang memiliki keterkaitan kuat dengan ekosistem maupun budaya Sulawesi.

Menurutnya, penggantian sejumlah pohon, khususnya ketapang kencana di kawasan depan Karebosi, bukan semata-mata karena pohon tersebut berukuran besar.

“Persoalan utamanya adalah kondisi beberapa pohon dan potensi konflik sistem perakaran dengan infrastruktur serta jaringan utilitas yang berada di kawasan pedestrian,” jelas Faris.

Dia menyebut terdapat pohon yang kondisinya sudah memiliki banyak rongga dan kemiringan sekitar 40 derajat.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena berpotensi membahayakan masyarakat yang beraktivitas dan berolahraga di sekitar kawasan Karebosi.

“Pohon tumbang itu tidak pernah bilang, tiba-tiba rubuh saja,” ujar Faris saat menjelaskan pentingnya aspek keselamatan dalam penataan pohon.

Ia menjelaskan, persoalan lain yang perlu diperhitungkan adalah karakter akar ketapang kencana yang dapat tumbuh cepat ketika mendapatkan sumber air dan nutrisi dari sistem drainase.

Jika ketapang kencana tetap dipertahankan dengan sistem drainase baru, menurutnya, akar pohon berpotensi tumbuh masuk ke jaringan tersebut.

Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat menyebabkan drainase tersumbat dan meningkatkan biaya pemeliharaan maupun perbaikan infrastruktur.

“Permasalahannya adalah konflik antara akar ketapang kencana dengan infrastruktur dan utilitas yang ada,” jelasnya.

Karena itu, opsi yang didorong bukan menghilangkan fungsi penghijauan, melainkan mengganti jenis pohon dengan tanaman yang lebih sesuai dengan karakter kawasan.

Faris menyebut sejumlah pohon natif Sulawesi yang dapat menjadi pilihan, salah satunya pohon bitti atau Vitex cofassus.

Pohon tersebut memiliki nilai kultural yang kuat di Sulawesi Selatan dan dikenal sebagai salah satu jenis kayu yang digunakan dalam pembuatan kapal pinisi, termasuk untuk bagian utama kapal.

Pilihan lainnya adalah padiasa atau Kleinhovia hospita, yang juga dikenal memiliki berbagai manfaat bagi masyarakat. Selain itu, terdapat Elaeocarpus atau jenis pohon yang dikenal dengan nama jati tri/jelatri sebagai alternatif vegetasi.

Menurut Faris, jenis-jenis tersebut memiliki karakter perakaran yang relatif lebih mudah dikendalikan. Pengendalian dapat dilakukan melalui penggunaan root barrier maupun pemangkasan akar secara berkala sehingga pertumbuhan akar tidak mengganggu drainase dan utilitas.

“Bukan pohonnya ditebang dan dihilangkan. Tetapi diganti dengan jenis pohon yang baru, yang kebetulan juga adalah pohon natif Sulawesi,” katanya.

Meski demikian, Faris menegaskan pemilihan jenis pohon nantinya tetap perlu dikoordinasikan dengan tim desain dan desainer lanskap.

Jenis tanaman yang dipilih harus disesuaikan dengan konsep, bentuk, fungsi, serta kebutuhan kawasan pedestrian.

Ia mengatakan, masih terdapat sejumlah pilihan vegetasi lain yang dapat digunakan, termasuk beberapa jenis tanaman dengan karakter tajuk dan ukuran yang lebih sesuai untuk ruang perkotaan.

Untuk pohon asam, Faris menyebut jenis tersebut juga dapat dipertimbangkan pada lokasi yang memiliki ruang lebih luas.

Meski bukan tanaman asli Indonesia, pohon asam telah lama tumbuh dan digunakan di Indonesia serta memiliki manfaat ekologis.

“Kalau dipilih tanaman tersebut, pertumbuhannya tergantung kepada arah atau intensi desain yang akan dilakukan oleh para desainer,” tutup Faris.

Diketahui, hadir pada kesempatan tersebut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Dr. Helmy Budiman, yang memberikan gambaran umum terkait konsep penataan vegetasi dalam revitalisasi pedestrian Kajaolalido-Thamrin. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *