NavigasiKreatif.com, MAKASSAR, — Keberadaan Bank Sampah di berbagai wilayah Kota Makassar mulai memberikan dampak terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah, khususnya kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bank Sampah Pusat (BSP) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Veronika, mengatakan perubahan perilaku tersebut memang belum berlangsung secara drastis. Namun, secara perlahan masyarakat mulai menunjukkan kebiasaan yang lebih baik dalam memilah dan mengelola sampah.
“Meski perubahan itu tidak drastis, namun pelan tapi pasti perubahan perilaku warga mulai mengarah lebih baik,” kata Veronika di Makassar, Senin.
Menurutnya, persoalan sampah di Kota Makassar tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan armada pengangkut maupun tempat pemrosesan akhir (TPA).
Peran aktif masyarakat, terutama dalam memilah sampah dari sumbernya, menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah.
Pemilahan sampah sejak dari rumah dinilai menjadi langkah awal agar sampah lebih mudah dikelola dan berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kebijakan tersebut berangkat dari pemikiran bahwa sampah rumah tangga sebaiknya sudah dipisahkan sejak dari sumbernya. Sampah yang telah tercampur akan lebih sulit dimanfaatkan karena membutuhkan proses pemilahan kembali.
Sebaliknya, sampah yang sudah dipisahkan sejak awal akan lebih mudah dikelola, baik untuk dimanfaatkan kembali maupun didaur ulang.
Veronika menjelaskan, perubahan kebiasaan tersebut idealnya dimulai dari lingkungan rumah tangga. Dalam hal ini, keberadaan bank sampah unit memiliki peran strategis karena berada dekat dengan masyarakat.
Bank sampah unit menjadi pintu awal dalam proses pengumpulan sekaligus pemilahan sampah yang dilakukan warga sebelum diteruskan ke jaringan pengelolaan berikutnya.
Sampah anorganik seperti botol plastik, gelas plastik, kardus, kertas, dan berbagai material lainnya yang masih memiliki nilai jual dapat dikumpulkan oleh masyarakat.
Setelah jumlahnya mencukupi, sampah tersebut kemudian disalurkan ke jaringan pengelolaan berikutnya untuk dimanfaatkan atau didaur ulang.
Sementara itu, sampah organik membutuhkan penanganan yang berbeda.
Sisa makanan yang berasal dari rumah tangga, sekolah, pabrik, hotel, dan sumber lainnya dapat diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan sebagai bahan untuk budi daya maggot.
“Semua itu memiliki nilai ekonomis dan menjadi salah satu motivasi warga untuk memilah sampahnya dari rumah,” ujar Veronika.
Dengan demikian, keberadaan bank sampah tidak hanya membantu mengurangi sampah yang masuk ke sistem pengangkutan dan pemrosesan akhir, tetapi juga mendorong terbentuknya kebiasaan baru masyarakat dalam mengelola sampah sekaligus membuka peluang ekonomi dari sampah yang masih bernilai. (*)





