Munafri Arifuddin Perkuat Pembenahan TPA Tamangapa, Sampah Organik Diolah Jadi Pakan Sapi

NavigasiKreatif.com, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan komitmen Pemerintah Kota Makassar untuk memperkuat pembenahan pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi dampak sampah terhadap lingkungan sekaligus mendorong sistem pengelolaan yang lebih efektif, terpadu, dan berkelanjutan.

Komitmen tersebut disampaikan Munafri melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @munafriarifuddin, pada 11 Oktober 2026. Dalam unggahan bertajuk Benahi TPA, Kurangi Dampak Sampah yang berkaitan dengan Makassar Leadership Summit 2026, ia menyoroti pentingnya pembenahan TPA Tamangapa serta keterlibatan masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan.

Bacaan Lainnya

Menurut Munafri, penanganan sampah membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari pembenahan sistem pengelolaan di tempat pemrosesan akhir hingga perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya.

Pemerintah Kota Makassar terus mendorong perbaikan pengelolaan TPA Tamangapa, salah satunya melalui peralihan dari sistem open dumping, yakni praktik pembuangan sampah secara terbuka tanpa pengelolaan yang memadai. Peralihan menuju sistem pengelolaan yang lebih baik diperlukan untuk menekan risiko pencemaran dan mengurangi dampak lingkungan akibat penumpukan sampah.

Pembenahan tersebut menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pengelolaan sampah di Kota Makassar. Selain memperhatikan kapasitas penanganan sampah, pemerintah juga perlu memastikan proses pengolahan dan pengendalian dampak lingkungan berjalan secara berkelanjutan.

Salah satu langkah yang disampaikan Munafri adalah penambahan kolam pengolahan air lindi. Air lindi merupakan cairan yang terbentuk ketika air meresap melalui timbunan sampah dan membawa berbagai zat terlarut dari material yang mengalami penguraian.

Apabila tidak dikelola dengan baik, air lindi berpotensi mencemari tanah dan sumber air di sekitarnya. Oleh karena itu, fasilitas pengolahan air lindi memiliki peran penting dalam mendukung pengelolaan TPA yang lebih aman bagi lingkungan.

Selain pengolahan air lindi, Pemkot Makassar juga mendorong pengelolaan gas metana yang dihasilkan dari proses penguraian sampah organik. Gas tersebut perlu dikendalikan secara tepat karena dapat menimbulkan risiko lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Pengendalian gas metana menjadi salah satu aspek penting dalam pembenahan TPA. Melalui penanganan yang sesuai, potensi dampak dari timbunan sampah diharapkan dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan di sekitar lokasi.

Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak sekadar berkaitan dengan penyediaan tempat pembuangan. Diperlukan infrastruktur yang memadai, sistem pengolahan yang tepat, serta pemantauan berkelanjutan agar penanganan sampah berjalan efektif dan tidak menimbulkan dampak lingkungan yang lebih luas.

Sampah Organik di TPA Tamangapa Diolah Menjadi Pakan Sapi

Selain membenahi infrastruktur, Pemkot Makassar juga mendorong pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai guna. Salah satu langkah yang disampaikan Munafri adalah pengolahan sampah organik di TPA Tamangapa menjadi pakan sapi.

Upaya ini menunjukkan pentingnya melihat sampah bukan hanya sebagai material yang harus dibuang, tetapi juga sebagai bahan yang berpotensi dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan yang tepat.

Sampah organik, seperti sisa bahan pangan tertentu, dapat dimanfaatkan apabila dipilah dan ditangani sesuai ketentuan. Pemanfaatan ini berpotensi mengurangi jumlah material organik yang berakhir sebagai timbunan di TPA.

Pengolahan sampah organik menjadi pakan sapi juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung pemanfaatan kembali material yang masih berguna. Namun, prosesnya harus memperhatikan kebersihan, keamanan bahan, dan kelayakan pakan agar tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan hewan.

Pemanfaatan sampah secara tepat merupakan salah satu pendekatan untuk mengurangi beban TPA Tamangapa. Material yang masih dapat diolah perlu dipisahkan sejak awal agar lebih mudah diarahkan ke proses pemanfaatan sesuai dengan karakteristiknya.

Dengan demikian, pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya mengurangi timbunan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Meski demikian, pemanfaatan sampah perlu diimbangi dengan upaya mengurangi timbulan sampah dari sumbernya. Semakin banyak sampah yang dapat dikurangi dan dipilah sejak awal, semakin besar peluang untuk meningkatkan efektivitas pengolahan pada tahap berikutnya.

Pemilahan Sampah dari Rumah Menjadi Kunci

Munafri juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung pembenahan TPA Tamangapa. Penanganan sampah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan perubahan kebiasaan yang dimulai dari lingkungan rumah tangga.

Masyarakat diharapkan membiasakan diri memilah sampah sebelum membuangnya. Langkah sederhana ini dapat membantu memisahkan material yang masih bisa dimanfaatkan dari sampah yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Pemilahan dapat dilakukan dengan memisahkan sampah organik, seperti sisa makanan dan bahan alami tertentu, dari sampah anorganik, seperti plastik, kertas, dan kemasan yang berpotensi didaur ulang. Sementara itu, sampah yang mengandung bahan berbahaya memerlukan penanganan khusus sesuai ketentuan yang berlaku.

Kebiasaan memilah sampah dapat membantu proses pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan menjadi lebih efektif. Sampah yang telah dipisahkan juga lebih mudah diarahkan ke proses pengolahan yang sesuai sehingga tidak seluruh material harus berakhir di TPA.

Selain memilah sampah, masyarakat dapat berkontribusi dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta menyalurkan material yang dapat didaur ulang melalui fasilitas pengumpulan yang tersedia.

Kebiasaan tersebut perlu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Pengurangan sampah tidak cukup dilakukan saat ada kegiatan kebersihan atau program tertentu, tetapi perlu menjadi bagian dari kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.

Edukasi mengenai pemilahan sampah juga perlu terus diperkuat melalui keterlibatan pemerintah di tingkat wilayah, komunitas lingkungan, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan kelompok masyarakat. Kolaborasi berbagai pihak dapat membantu meningkatkan pemahaman warga mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.

Dengan keterlibatan masyarakat sejak dari rumah, upaya pembenahan TPA dapat didukung melalui pengurangan sampah dari hulu. Langkah ini penting agar sistem pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada penanganan di tempat pemrosesan akhir.

Kolaborasi untuk Mewujudkan Makassar yang Lebih Bersih

Persoalan sampah merupakan tantangan perkotaan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. Peningkatan aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi turut memengaruhi jumlah sampah yang dihasilkan sehingga diperlukan sistem pengelolaan yang mampu menjawab kebutuhan kota.

Dalam konteks tersebut, pembenahan TPA Tamangapa menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola lingkungan di Kota Makassar. Perbaikan fasilitas pengolahan, pengendalian dampak lingkungan, dan pemanfaatan sampah yang masih berguna perlu berjalan beriringan dengan pengurangan sampah dari sumbernya.

Penanganan sampah yang efektif tidak hanya berorientasi pada pemindahan sampah dari satu lokasi ke lokasi lain. Sistem yang lebih baik perlu mendorong pengurangan timbulan, pemilahan, pemanfaatan kembali, serta pengolahan material sesuai jenis dan karakteristiknya.

Pemantauan secara berkala juga diperlukan untuk memastikan fasilitas pengolahan berfungsi dengan baik dan langkah pembenahan memberikan manfaat bagi lingkungan. Dengan pengelolaan yang terarah, risiko pencemaran dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas penanganan sampah di Kota Makassar.

Komitmen yang disampaikan Munafri dalam Makassar Leadership Summit 2026 menjadi pengingat bahwa penanganan sampah membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Pembenahan infrastruktur di TPA perlu didukung perubahan perilaku warga agar upaya pengurangan sampah dapat berjalan lebih optimal.

Masyarakat memiliki peran penting dalam mendukung pengelolaan sampah melalui kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, dan memanfaatkan kembali material yang masih layak.

Melalui pembenahan TPA Tamangapa dan peningkatan kesadaran masyarakat, Kota Makassar diharapkan dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah yang lebih baik. Upaya ini menjadi bagian dari langkah bersama untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Mengurangi dampak sampah merupakan tanggung jawab bersama. Perubahan dapat dimulai dari rumah dengan memilah sampah, mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan, dan menjaga kebersihan lingkungan setiap hari.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *